Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Setiap manusia mengawali komunikasinya dengan dunia sekitarnya melalui bahasa tangis. Melaltii bahasa tersebut scorang bayi mengkomunikasikan segala kebutuhan dan keinginannya. Scjalan dengan perkembangan kemampuan serta kematangan jasmani tcrutama yang bertalian dengan proses bicara, komunikasi tersebut makin meningkat dan meluas, misalnya dengan orang di sekitarnya lingkungan dan berkembang dengan orang lain yang baru dikenal dan bersahabat dengannya.
Terdapat perbedaan yang signifikan antara pengertian bahasa dan berbicara. Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang’diutarakan dalam bentuk lisan. tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ckspresi wajah pantomim atau seni. Sedangkan bicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk yang paling efektif untuk berkomunikasi, dan paling penting serta paling banyak dipergunakan. Perkembangan bahasa tersebut selalu meningkat sesuai dengan meningkatnya usia anak. Orang tua sebaiknya selalu memperhatikan perkernbangan tersebtit, sebab pada masa ini, sangat menentukan proses belajar. Hal ini dapat. dilakukan dengan memberi contoh yang baik, memberikan motivasi pada anak untuk belajar dan scbagainya. Orang tua sangat bertanggung jawab alas kesukscsan belajar anak dan seyogianya selalu berusaha meningkatkan potensi anak agar dapat berkembang secara maksimal. Pada gilirannya anak akan dapat berkembang dan tumbuh menjadi pribadi yang bahagia karena dengan muclali berkomunikasi dengan lingkungan, bersedia mcmbcri dan mencrima segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya.
Bahasa adalah segala bentuk komunikasi di mana pikiran dan perasaan scseorang disimbolisasikan agar dapat mcnyampaikan arti kepada orang lain. Oleh karera itu, perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata. Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistik inilah mulai srat anak mengucapkan kata kata yang, pertama. Yang merupakan saat paling meiiakjubkan bagi orang tua. Periode linguistik terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:
1. Fase satu kata atau Holofrase
Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kornpleks, baik yang bcrupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa pcrbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bag: anak dapat berarti “saya mau duduk”, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti “mama sedang duduk”. Orang tua baru dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan oleh anak tersebut, apabila kiia tahu dalam konteks apa kata tersrbut diucapkan, sambil mcngamati mimik (ruut muka) gerak serta bahasa tubuh lainnya. Pada umumnya kata pertama yang diurapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.
2. Fase lebih dari satu kata
Fase dua kata muncul pada anak berusia sekkar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat mcmbuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan uniuk dirinya sendiri. Mulailah mcngadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana.
3. Fase ketiga adalah fase diferensiasi
Periode terakhir dari masa balita yang bcrlangsung antara usia dua setcngah sampai lima tahun. Ketcrampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak buKan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata dcmi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pcmakaian kata bcnda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, member! tahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “gaya” dewasa.
a. Bahasa Tubuh
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa salah satu jenis bahasa adalah bahasa tubuh. Bahasa tubnh adalah cara seseorang berkomunikasi dengan mempergunakan bagian-b;:gian dari tubuh, yaitu melalui gcrak isyarat, ekspresi wajah. sikap tubuh, langkah serta gaya tersebut pada umumnya disebut bahasa tubuh. Bahasa tubuh sering kali dilakukan tanpa disadari. Sebagaimana fun^si bahasa Iain, bahasa tubuh juga merupakan ungkapan komunikari anak yang paling nyata, knrena merupakan ekspresi perasaan serta keinginan mereka terhadap orang lain, misalnya terhadap orang tua (ayah dan ibu) saudara dan orang lain yang d.ipat mememihi atau mengcrti akan pikiran anak. Melalui bahasa tubuh anak, orang tua dapat mtmpclnjari apaknh anaknya mcnangis knrena lapar, sakit, kcsepian atau bosan pada waklu tcrtcntu.
b. Bicara
Bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Semenjak anak masih bayi string kali menyadari bahwa dengan mempergunakan bahasa tubuh dapat terpenuhi kebutuhannya. Namun hal tersebut kurang mengerti apa yang dimaksud oleh anak. Oleh karena itu baik bayi maupun anak kecil stlalu berusaha agar orang lain mengcrti maksudnya. Hal ini yang mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk-bcntuk komunikasi yang lain yang .dipakai anak sebelum pandai berbicara. Oleh karena bagi anak bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tctapi juga birfungsi nntuk mcncapni tujuannya, misalnya:
1) Scbagai pcmuas kcbutuhan dan keinginan
Dengan berbicara anak mudah untuk mcnjclaskan kebtit’ihan dan keinginannya tanpa harus menunggu orang lain mengerti tangisan, gerak tubuh atau ekspresi wajahnya. Dengan demikian kemampuan berbicara dapat mengurangi frustasi anak yang disebabkan oleh orang tua atau lingkungannya tidak mengerti apa saja yang dimaksudkan oleh anak.
2) Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain
Pada umumnya setiap anak merasa senang menjadi pusat perhatian orang lain. Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian Orang lain terhadapnya mudah diperoleh melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya apabila anak dilarang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Di samping itu berbicara juga dapat untuk menyatakan berbagai ide, sekalipun sering kali tidak masuk akal-bagi orang tua, dan bahkan dengan mempergunakan keterampilan berbicara anak dapat mendominasi situasi “.ehingga terdapat komunikasi yang baik antara anak dengan teman bicaranya.
3) Sebagai alat untuk membina hubungan sosial
Kemampuan anak berkomunikasi dengan orang lain merupakan syarat penting untuk dapat menjadi bagian dari kelompok di lingkungannya. Dengan keterampilan berkomunikasi anak-anak Icbih mudah diterima oleh kelompok sebayanya dan dapat mempcroleh kescmpatan Icbih banyak untuk mendapat peran sebagai pcmimpin dari suatu kelompok, jika dibandingkan dengan anak yang kurang terampil atau tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.
4) Scbagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri
Dari pernyataan orang lain anak dapat mengetahui bagaimana perasaan dan pendapat orang tersebut terhadap sesuatu yang telah dikatakannya. Di samping anak juga mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Dengan kata lain anak dapat mengevaluasi diri mclalui orang lain.
5) Untuk dapat mcmpengaruhi pikiran dan peiasaan orang lain
Anak yang suka,berkomentar, menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenangi lingkungannya. Sebaliknya bagi anak yang suka mcngucapkan kata-kata yang menyenangkan dapat merupakan medal utama .bagi anak agar diterima dan mendapat simpat’ dari lingkungannya.
6) Untuk mempengaruhi perilaku orang lain
Dengan kemampuan berbicara dengan baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun. Kemampuan dan keterampilan berbicara dengan baik juga dapat merupakan modal utama bagi anak untuk menjadi pemimpin di lingkungan karena teman sebryanya menaruh kepercayaan dan simpatik kepadanya.

c. Potensi Anak Berbicara Diditkung oleh Beberapa Hal
1) Kematangan alat berbicara
Kemampuan berbicara juga tergantung pada kematangan alat-alat berbicara. Misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut dan Iain-lain dapat mempengaruhi kematangan berbicara. Alat-alat tersebut baru dapat berfungsi dengan baik setelah sempi’rpa dan dapat membentuk atau memproduksi suatu kata dengan baik scbagai permulaan berbicara.
2) Kesiapan berbicara
Kesiapan mental anak sangat berganrung pada pertumbuhan dan kematangan otak. Kesiapan dimaksud biasanya dimnlai sejak anak berusia antara 12-18 bulan, yang discbut teachable moment dari perkembangan bicara. Pada saat inilah anak betul-betul sudah siap untuk belajar. bicara yang sesungguhriya. Apabila tidak ada gangguan anak akan segera dapat berbicara sekalipun belum jelas maksudnya.
3) Adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak
Anak dapat membutuhkan suatu model tertentu -agar dapat
melafalkan kata dengan tepat untuk dapat dikombinasikan dengan
kata lain sehingga menjadi suatu kalimat yang berarti. Model
tersebut dapat diperoleh dari orang lain, misalnya orang tua atau
saudara, dari radio yang sering didengarkan atau dari TV, atau aktor
film yang bicaranya jelas dan berarti. ^Anak akan mengalami
kesulitan apabila tidak pernah memperoleh model scbagaimana
disebutkan diatas. Dengan scndirinya potcnsi anak tidak dapat
berkcmbang scbagaimana mcstinya. .
4) Kesempatan berlntih
Apabila anak kurang mendapatkan latihan keterampilan berbicara akan timbul frustasi dan bahkan sering kali marah yang tidak dimengerti penyebabnya oleh orang tua atau lingkungannya: Pada gilirannya anak kurang memperoleh moUvasi untuk belajar berbicara yang pada umumnya disebut “anak ini lamban” bicaranya.
5) Motivasi untuk belajar dan berlalih
Memberikan motivasi dan melatih anak untuk berbicara sangat penting bagi annk karena untuk memenuhi kebutuhannya untuk memanfaatkan potensi anak. O’-ang tua hendaknya selalu berusaha agar motivasi anak untuk berbicara jangan terganggu atau tidak mendapatkan pengarahan.
6) Bimbingan
Bimbingan bagi anak sangat. penting untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu hendaknya orang tua suka memberikan contoh atau model bagi anak, berbicara dengan pelan yang mudah diikuti oleh anak dan orang tua siap memberikan kritik atau mcmbetulkan apabila dalam berbicara anak berbuat suatu kesalahan. Bimbingan tersebut sebaiknya selalu dilakukan secara terus menerus dan konsisten sehingga anak tidak mengalami kesulitan apabila berbicara dengan orang lain.
d. Gangguan dalam Perkembangan Berbicara
Di samping berbapai faktor tersebut terdapat beberapa gangguan yang harus diatasi oleh anak dalam rangka belajar berbicara.Perkembangan berbicara merupakan suatu proses y?ng sangat sulit dan rumit. Terdapat beberapa kendala yang sering kali dialami oleh anak, antara lain:
1) Anak cengeng
Anak yang sering kali menangis dengan berlebihan dapat menimbulkan gangguan pada fisik maupun psikis anak. Dari segi fisik, gangguan tersebut dapai berupa kurangnya energi sehingga secara otomatis dapat menyebabkan kondisi anak tidak fit. Sedangkan gangguan psikis yang muncul adalah perasaan ditolak atau tidak dicintai oleh orang tuanya, atau anggota kcluarga lain. Sedangkan rcaksi sosial tcrhadap tangisan anak biasanya bernada negatif. Oleh karena itu pcranan orang tua sangat penting untuk menanggulangi hal tersebut, salah satu cara untuk mengajarkan komunikasi yang cfcktif bagi anak.
2) Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain
Sering kali anak tidak dapat memahami isi pembicaraan orang tua atau anggota keluarga lain. Hal ini disebabknn kurangnya perbeidaharaan kata pada anak. Di samping itu juga dikarenakan orang tua sering kali berbicara sangat cepat dengan mempergunakan kata-kata yang belum dikenal oleh .anak. Bagi keluarga yang mcnggunakan dua bahasa (bilingual) anak akan. lebih banyak mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan orang tuanya atau saudaranya yang tinggal dalam satu rumah. Orang tua hendaknya selalu berusaha mencari penyebab kesulitan anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat memperbaiki atau membetulkan apabila anak kurang mengerti dan bahkan salah mengintepretasikan suatu pembicaraan.

Salah satu contoh kasus pembalakan mangrove terjadi di Jepara. Di daerah ini, kini marak penebangan pohon mangrove, terutama di area konservasi Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (Kesemat) yang letaknya persis di belakang Kampus Ilmu Kelautan UNDIP, di sepanjang pesisir Pantai Teluk Awur Jepara. Selama Agustus sampai dengan September 2006, di lokasi yang sebagian besar mangrovenya adalah hasil penanaman kembali (re-plantation) ini, penebangan dan pencurian kayu mangrove, berikut pasirnya semakin menjadi-jadi. Menariknya lagi, oknum pencuri itu tak sungkan-sungkannya, membawa hasil jarahannya dengan mobil pick up, walaupun disekitarnya ada banyak orang yang melihatnya. Dan lebih anehnya lagi, orang-orang sekitarnya, juga tidak mampu berbuat apa-apa (tidak berani dan sungkan, mungkin) untuk mencegah pembalakan mangrove dan pencurian pasir tersebut.

Mengingat semakin seringnya terjadi pembalakan mangrove, maka dalam kegiatan Mangrove ReplanT (MR) beberapa waktu lalu, Kesemat mengemukakan sebuah wacana agar Pemda Jepara dan Pemprov Jateng segera menyusun Perda mengenai pembalakan mangrove itu. Juga kepada pihak kepolisian, yang diminta untuk segera mengusut tuntas dan bertindak setegas mungkin, menangkap penjarah-penjarah mangrove di Teluk Awur Jepara.
Pembalakan kayu (yang katanya untuk kayu bakar dan bonsai mangrove), pengambilan pasir (yang katanya untuk lapangan voley pantai), adalah dua contoh dari sekian banyak pencurian sumberdaya pesisir yang terjadi di Jepara atau mungkin juga di daerah lainnya.

Mereka sudah sangat sering dijadikan obyek ketidakadilan pelaksanaan peraturan pemerintah di lapangan. Mereka juga sudah sangat kenyang dengan kemiskinan yang terus melanda mereka dari jaman penjajahan sampai dengan sekarang.

Pemikiran dan paradigma (lama) yang selalu mengatakan bahwa oknum masyarakat pesisir-lah yang menjadi biang kerok kerusakan ekosistem mangrove karena menebanginya untuk keperluan kayu bakar, misalnya, harus mulai dihilangkan.

Berbagai upaya telah coba diterapkan oleh berbagai pihak untuk menyelamatkan pesisir pantai mereka dari degradasi. Salah satunya, melalui program Kesemat, selama lima tahun, dalam melakukan program tahunan: pembuatan bedeng, pembibitan, penyuluhan, penanaman dan pemeliharaan mangrove (MR) di Teluk Awur Jepara. Ternyata hasil yang didapatkan belumlah maksimal. Sampai saat masih banyak kendala yang dihadapi, seperti kendala pemeliharaan, banyaknya bibit mangrove yang mati dan kurangnya partisipasi masyarakat sekitar.

Khusus untuk kendala keikutsertaan masyarakat sekitar, memang masyarakat Teluk Awur terkesan masih acuh dan tidak juga tumbuh jiwa konservasinya untuk menyelamatkan mangrove di pesisir pantainya, padahal usia program ini sudah menginjak usianya yang kelima.

Setelah dievaluasi, timbullah kesepakatan untuk tidak berusaha menyalahkan masyarakat sekitar, karena dari pihak Kesemat sendiri juga, memang ada beberapa kendala seperti kurangnya sosialisasi kepada masyarakat Teluk Awur.

Namun demikian, dari pengalaman bekerja selama lima tahun itu, banyak diteemukannya pelajaran, salah satunya adalah adanya sebuah wacana baru yang ditemukan. Setelah berdiskusi dan bertanya lebih mendalam lagi mengenai ketidakikutsertaan mereka dalam MR, jawabnya adalah: mereka bingung dan (sebenarnya) malas menyambut program tahunan kami. Kenapa demikian? Masyarakat “sana” sebenarnya benar-benar bingung untuk apa MR itu diadakan.

Mereka malahan menanyakan mau diapakan pesisirnya? Mau diapakan mangrovenya? Tujuan akhir program MR ini seperti apa? Kalau mereka ikut menanam dan menjaga mengrove bersama kami, menurut mereka, itu mah gampang dan bisa dilakukan.

Tetapi yang membuat mereka malas adalah, setelah dijaga, dirawat, disulam bahkan kalau nanti suatu saat mangrovenya tumbuh semua, apa yang didapatkan mereka dari mangrove? Dengan kata lain, apa yang bisa diberikan mangrove kepada kami?

Kenyataan bahwa hasil tangkapan ikan mereka akan melimpah (karena kondisi ekosistem mangrovenya mulai stabil lagi), dan abrasi pantai akan tertanggulangi karena sistem perakaran mangrove sangat kuat dan mampu membentuk daratan baru, sudah lama mereka sadari. Pelajaran itu sudah mereka dapatkan bertahun-tahun yang lalu.

Padahal masyarakat pesisir di sana itu tidak membutuhkan waktu yang lama lagi, untuk memberi makan dirinya dan keluarganya, pun mengebulkan asap dapurnya untuk terus hidup. Kalau saya merawat, menyulam, menjaga mangrove, tapi keluarga saya mati kelaparan, ya mana saya mau. Mending sekarang saja, saya tebangi kayu mangrove untuk kayu bakar dan saya jual ke pasar. Saya dapat uang untuk membeli makanan buat istri dan anak-anak saya, buat menghidupi keluarga saya. Saya tidak mau keluarga saya mati kelaparan, hanya gara-gara saya merawat mangrove.

Laweyan (Espos),   Semua berawal dari limbah tahu yang sungguh menyengat hidung. Namun, siapa sangka justru dari situlah warga RT 03/RW III Mojosongo, Jebres ini bangkit.

Bahkan, kini mereka seolah ingin berteriak dengan lantang agar dikirimi limbah lebih banyak lagi. Semakin banyak limbah yang dikirim, semakin kuatlah nyala api yang mereka ciptakan. “Sekarang, sudah ada 35-an warga yang setiap hari menyalakan kompor, mesin disel, dan lampu petromaks secara gratis tanpa batas,” ujar Acok Warso, salah seorang penggagas pengolah limbah menjadi biogas ketika ditemui Espos di kediamannya RT 03/RW III Mojosongo, Kamis (30/7).

Siang itu, Acok yang juga seorang ketua RT setempat mendapatkan tamu kehormatan hanya karena limbah di lingkungannya. Di lokasi yang penuh gang sempit itu, Acok menerima rombongan tamu satu bus dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Menteri Negara dan Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, serta Walikota Solo Jokowi bersama jajarannya.

Kedatangan rombongan tamu negara itu sekali lagi hanya ingin menyaksikan kehebatan Acok dan warganya dalam menyulap limbah tahu menjadi tenaga api tanpa biaya. Tentunya, setelah disimpan dalam sebuah ruang sejenis septic tank dibangun di bawah tanah. Sungguh, tak ada yang menyangka, jika jerih payah Acok menggeluti limbah tahu sejak tahun 1999 silam itu akhirnya berbuah manis. Bukan saja memberi manfaat bagi dirinya, namun warga sekitar, kelurahan dan juga Kota Solo ikut ketularan.

Ketika Kota Solo dilanda kesulitan minyak tanah akibat konversi minyak ke gas, warga RT 03/RW III itu malah tenang-tenang. “Gimana nggak tenang, lha wong tinggal nyulut korek api saja, kompor sudah nyala dengan biru. Kalau listrik padam, lampu petromaks bisa dipakai sepuasnya. Atau kalau mau menyalakan mesin disel untuk olah kedelai, tak perlu beli bensin atau solar,” paparnya.

Kabid Industri Kecil Kementerian Lingkungan Hidup, Tulus Laksono mengaku salut dengan usaha Acok dan warga setempat. Sebenarnya, pihaknya menawari Acok untuk buat pengolahan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) lebih lengkap. “Tapi, karena keterbatasan lahan jadi ya tak jadi. Ini saja sudah sangat membawa manfaat banyak kok,” paparnya.